di daerah aceh terdapat musik yang disebut
Siswaduduk di ruang kelas yang lantainya dipenuhi sisa lumpur banjir yang melekat di lantai di SMAN Sakti, Pidie. Jaringanpelajaraceh.com-Pidie-JIKA kita telusuri 23 kabupaten/kota di Aceh, terutama daerah-daerah pedalaman ternyata masih banyak pendidikan di sana yang belum merata.Selama ini, kita melihat Pemerintah Aceh masih memprioritaskan pendidikan di perkotaan dibandingkan dengan
AcehTamiang - Suasana di lokasi cagar budaya Bukit Kerang, Desa Mesjid, Kecamatan Bendahara, siang itu, 22 Juli 2020, cukup sunyi.Hanya tumpukan kulit kerang yang tampak menyerupai bukit kecil, sama seperti namanya. Warna ribuan atau mungkin ratusan ribu kulit kerang itu tampak kusam dan kotor akibat bercampur dengan tanah. Terlebih selama puluhan atau ratusan tahun tertimpa terik matahari
Acehyang sebelumnya pernah disebut dengan nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009) adalah provinsi paling barat di Indonesia. Diantara bahasa-bahasa daerah yang terdapat di provinsi NAD, bahasa Aceh merupakan bahasa daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya, yakni sekitar 70 % dari total
2 Suling Bambu. Alat musik tiup satu ini berasal dari tanah Sunda, Jawa Barat. Suling Bambu terbuat dari bambu dengan ciri-ciri berbentuk ramping, panjang sekitar 15-30 cm, dengan diameter berkisar 3-4 cm. Suara pada suling dihasilkan dari udara yang ditiup melalui ujung lubang yang ada pada instrumen.
RumahAceh (Aksara Jawoë : رومه عادة اچيه) atau yang lebih dikenal dengan nama "Rumoh Aceh" merupakan rumah adat dari suku Aceh. Rumah ini bertipe rumah panggung dengan 3 bagan utama dan 1 bagian tambahan. Tiga bagian utama dari rumah Aceh yaitu seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah) dan seuramoë likôt (serambi belakang).
Badische Zeitung Bekanntschaften Sie Sucht Ihn. Mengenal 11 alat musik dari Aceh yang awet dan lestari hingga kini. Nagroe Aceh Darussalam merupakan salah satu provinsi yang terletak di bagian paling utara Pulau Sumatera dan ujung barat negara kepulauan Indonesia. Karena alasan sejarah, daerah Aceh diberi kewenangan otonomi khusus sehingga status provinsi Aceh menjadi daerah istimewa. Berbicara soal kebudayaan, Aceh juga merupakan daerah yang kaya akan seni dan budaya. Kesenian Aceh meliputi tari-tarian, sastra, musik, dan lainnya. Aceh juga memiliki banyak ragam alat-alat musik tradisional yang masih lestari hingga kini. Pada artikel ini kita akan mengulas sejumlah alat musik tradisional dari Aceh yang masih lestari dan penuh dengan nilai-nilai budaya tentunya. Inilah 11 contoh alat musik dari Aceh yang berhasil kita rangkum dalam tulisan kali ini … Baca juga Mengenal 13 Alat Musik Tradisional Sumatera Utara yang Khas dan Kaya 1. Canang2. Rapai3. Celempong4. Tambo5. Teganing6. Serune Kalee7. Geundrang8. Taktok Trieng9. Bereguh10. Arbab11. Bangsai Alas12. Kecapi Aceh13. Genggong14. Bensi15. Bebelan 1. Canang Canang merupakan alat musik tradisional dari Aceh yang sering dijumpai dalam masyarakat Aceh, Gayo, Tamiang, dan Alas. Setiap daerah memiliki istilah sendiri-sendiri pada alat musik ini, di Aceh disebut “Canang Trieng”, di Gayo disebut “Teganing”, di Tamiang disebut “Kecapi”, dan di Alas disebut “Kecapi Olah”. Alat musik ini terbuat dari kuningan yang dibentuk meyerupai gong. Hampir di semua daerah Aceh terdapat alat musik canang, namun masing-masing memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda-beda. Secara umum, canang berfungsi sebagai pengiring tari-tarian tradisional. Selain itu juga berfungsi sebagai hiburan bagi anak-anak gadis yang sedang berkumpul. Biasanya alat ini dimainkan setelah menyelesaikan pekerjaan di sawah atau mengisi waktu senggang. 2. Rapai Rapai adalah sejenis alat musik tradisional dari Aceh. Alat musik ini terbuat dari jenis kayu yang keras biasanya dari batang pohon nangka yang setelah dibulatkan, dibuat lubang di bagian tengahnya. Kayu yang telah dilubangi ini disebut baloh. Baloh pada bagian atas umumnya lebih besar daripada bagian bawah. Bagin atas lalu ditutup dengan kulit kambing, sedangkan bagian bawah dibiarkan terbuka. Kemudian penjepit kulit atau pengatur tegangan kulit dibuat dari rotan yang dibalut dengan kulit. Dalam masyarakat Aceh, penjepit ini biasa disebut sidak’. Alat musik rapai biasa digunakan sebagai alat musik pada berbagai upacara, terutama yang berhubungan dengan keagamaan, perkawinan, kelahiran, dan permainan tradisional yaitu debus. Rapai dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan seperti gendang, dan biasanya dimainkan secara berkelompok. Pemimpin kelompok pemain rapai biasa disebut dengan syeh’ atau kalipah’. 3. Celempong Celempong merupakan alat kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Tamiang. Alat musik ini terdiri dari beberapa kayudan, cara memainkannya disusun di antara kedua kaki pemainnya. Celempong biasanya dimainkan oleh kaum perempuan, terutama gadis-gadis. Namun sekarang, hanya orang tua wanita saja yang dapat memainkannya dengan sempurna. Celempong diperkirakan telah ditemukan sejak lebih dari 100 tahun yang lalu di daerah Tamiang. Alat ini biasa digunakan sebagai pengiring tari Inai. Baca juga Mengenal 9 Alat Musik Tradisional Bengkulu yang Unik dan Khas 4. Tambo Tambo merupakan alat musik tradisional Aceh yang terbuat dari batang iboh, kulit sapi, dan rotan sebagai pengikat kulit. Bentuknya mirip dengan tambor dan dimainkan dengan cara dipukul. Dalam sejarahnya, awalnya tambo berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menandakan datangnya waktu sholat dan untuk mengumpulkan warga ke meunasah guna membicarakan masalah-masalah yang ada dalam satu kampung. Saat ini, alat musik tambo sudah jarang digunakan karena hadirnya teknologi modern berupa mikrofon. 5. Teganing Teganing adalah sebuah alat musik yang terbuat dari bambu, termasuk dalam alat musik sitar tabung idio-kordofon. Cara memainkan alat ini adalah dengan cara memukul bagian dawai menggunakan peguel stik/alat pemukul, dan dalam waktu yang bersamaan lubang di bawahnya juga dipukul. Alat musik ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang pada saat bersantai di lepo rumah adat pada waktu sore hari. 6. Serune Kalee Serune Kalee adalah alat musik sejenis terompet khas Aceh dengan struktur bentuk mirip klarinet. Alat musik ini biasa dimainkan sebagai instrumen utama dalam sebuah pertunjukan musik tradisi Aceh, bersama iringan alat musik geundrang, rapai, dan sejumlah alat musik tradisional lainnya. Sebenarnya, istilah Serune Kalee berasal dari dua kata, yaitu serune’ yang merupakan sebuah alat musik tradisional Aceh, dan Kalee’ yang merupakan nama sebuah desa di Laweung, Kabupaten Pidie. Maka secara sederhana, Serune Kalee adalah sebuah serunai/seruling yang berasal dari daerah Kalee. Serune Kalee terbuat dari kayu pilihan yang memiliki karakter kuat dan keras sekaligus ringan. Dalam proses pembuatannya, kayu tersebut direndam terlebih dahulu selama tiga bulan sebelum dibuat. Setelah fase perendaman selesai, kayu kemudian dipangkas hingga hanya menyisakan bagian yang disebut hati kayu’. Hati kayu itulah yang kemudian dibor dan dibubut untuk membuat lubang dengan diameter 2 cm. Setelah tercipta rongga, kemudian tahap pembuatan lubang-lubang nada yang berjumlah 6 lubang di bagian atas sebagai insterval nada, dan 1 lubang lagi di bagian bawah sebagai syarat terciptanya suara khas dari Serune Kalee. 7. Geundrang wikipedia Geundrang merupakan alat musik yang biasa dipakai pada pertunjukan musik Serune Kalee. Geundrang termasuk jenis alat musik pukul, memainkannya dengan cara dipukul menggunakan tangan atau kayu pemukul. Alat musik ini banyak dijumpai di daerah Aceh Besar dan daerah pesisir Aceh seperti Pidie dan Aceh Utara. Geundrang berfungsi sebagai pengatur tempo pada musik etnik Aceh. 8. Taktok Trieng Taktok Trieng merupakan alat musik pukul yag terbuat dari bambu. Alat musik ini banyak dijumpai di daerah Kabupaten Pidie, Aceh besar, dan beberapa daerah lainnya. Taktok Trieng memiliki dua jenis yang pertama, jenis yang biasa digunakan di meunasah langgar, balai-balai pertemuan, dan tempat-tempat lain. Yang kedua adalah jenis yang dipergunakan di sawah-sawah sebagai alat untuk mengusir burung atau serangga yang mengancam tanaman padi. Jenis ini biasanya diletakkan di tengah sawah dan dihubungkan dengan tali sampai ke dangau gubuk tempat menunggu padi di sawah. 9. Bereguh Bereguh merupakan alat musik tiup yang terbuat dari tanduk kerbau. Alat musik ini sejak masa silam sudah dijumpai di daerah Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, dan terdapat juga di beberapa daerah. Bereguh memiliki nada yang terbatas, variasi nada yang dapat dihasilkan tergantung pada teknik meniupnya. Bereguh berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda bahaya, terutama apabila berada di hutan dan dalam posisi yang berjauhan. Kini, alat musik ini sudah jarang digunakan orang, bahkan diperkirakan sudah punah keberadaannya. 10. Arbab Arbab merupakan alat musik gesek tradisional Aceh yang tersebar di daerah Pidie, Aceh Besar, dan Aceh Barat. Arbab tergolong dalam alat musik kordofon, yaitu instrumen yang bunyinya bersumber dari dawai. Cara memainkannya adalah dengan menggeseknya menggunakan alat penggesek yang disebut go arbab’. Badan alat musik arbab terdiri dari beberapa bahan, yaitu tempurung kelapa, kulit kambing, kayu, dan dawai. Sedangkan busur penggeseknya terbuat dari kayu atau rotan dan serat tumbuhan. Pada masanya, alat musik arbab biasa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional, bersama dengan geundrang/rapai dan sejumlah alat musik tradisional lainnya. Arbab berperan sebagai instrumen utama pembawa lagu. Kini, alat ini biasa dimainkan dalam acara-acara keramaian rakyat, seperti hiburan rakyat dan pasar malam. Baca juga Mengulas 14 Alat Musik Tradisional Sumatera Barat yang Eksotis 11. Bangsai Alas wikipedia Bangsai Alas merupakan alat musik tiup yang terbuat dari bambu dan banyak dijumpai di daerah Alas, Aceh Tenggara. Dalam tradisi setempat, alat musik ini begitu berkaitan dengan hal-hal mistik. Ketika diketahui ada seseorang meninggal dunia di kampung tempat alat musik bangsi dibuat, bangsi yang telah selesai dibuat dengan sengaja dihanyutkan di sungai. Setelah terus diikuti hingga bangsi tersebut diambil oleh anak-anak, bangsi tersebut harus dirampas kembali oleh pembuatnya dari anak-anak tersebut. Bangsi inilah yang nanti akan menjadi sebuah alat musik yang menghasilkan suara yang merdu. 12. Kecapi Aceh Kecapi Aceh merupakan alat musik khas yang berasal dari daerah Tamiang. Berbeda dengan kecapi yang ada di Jawa Barat yang dimainkan dengan cara dipetik, kecapi Aceh dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul khusus. 13. Genggong Genggong merupakan alat musik tiup halus yang berasal dari masyarakat Suku Alas. Menurut tradisi, alat ini biasa dimainkan pada saat larut malam, digunakan seorang pemuda untuk membangunkan pacarnya yang sudah tidur. Suara genggong dihasilkan dari getaran besi yang ditempa sedemikian rupa, sehingga seakan-akan suara genggong hanya dapat didengar oleh beberapa orang saja. 14. Bensi Alat musik ini terbuata dari bahan bambu. Bensi adalah sejenis suling melintang yang memiliki lima buah lubang nada. Biasanya, alat musik ini dimainkan oleh pemuda di kala waktu senggang di serambi rumah adat atau tepian sungai. 15. Bebelan Bebelan merupakan alat musik tiup sejenis serunai atau hobo yang memiliki lima lubang nada. Alat musik ini juga dikategorikan sebagai alat musik tradisional Aceh. Referensi
- Indonesia dikenal memiliki beragam kebudayaan dari Sabang sampai Merauke. Sama seperti daerah lainnya, Aceh yang dikenal sebagai rumah dari berbagai suku tentu memiliki kebudayaan khasnya. Hal tersebut dapat dilihat dari alat musik tradisional Aceh yang sering dijumpai dalam perayaan besar maupun untuk menyambut tamu yang datang. Berikut tujuh alat musik tradisional Aceh Serune Kalee Serune kale merupakan alat musik tiup yang berbentuk seperti seruling dan klarinet. Surya Rahman dalam modul berjudul Teknik Instrumen Tiup 2019 menyebutkan nama serune kale berasal dari serune yang berarti alat musik tradisional Aceh dan kale yang merujuk pada daerah Kale di kabupaten Aceh Besar. Serune kalee dimainkan dalam berbagai upacara adat dan perhelatan kebudayaan Aceh. Alat musik Geundrang AcehGeundrang Dilansir dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia, geundrang merupakan alat musik bagian dari perangkat musik Serune Kalee dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tangan ataupun kayu. Baca juga Daftar Alat Musik Tradisional di Indonesia Geundrang berbentuk seperti gendang yang terbuat dari kayu dan kulit kambing yang diikat dengan rotan. Canang Canang adalah alat musik tradisional aceh berbentuk gong kecil yang dibuat dari kuningan atau perunggu. Jalil Irfandi dkk dalam jurnal berjudul Mecanang Gung Pada Pesta Pernikahan Suku Kluet Kecamatan Kluet Tengah Kabupaten Aceh Selatan 2016, menyebutkan canang merupakan gong medium yang nadanya tidak terlampau rendah sehingga memiliki bunyi yang dengan gong lainnya, cara memainkan canang adalah dengan dipukul. Canang dalam budaya Aceh digunakan sebagai hiburan oleh perempuan yang sedang berkumpul, acara pernikahan, juga dalam mengiringi tarian tradisional Aceh. Arbab Arbab adalah alat musik tradisional Aceh yang memiliki bentuk mirip dengan biola. Arbab terbuat dari tempurung kelapa, bambu, kulit kambing, dan dawai yang terbuat dari benang hori. Sementara alat geseknya terbuat dari bulu ekor kuda ataupun ijuk pohon enau yang kuat. Alat musik Bangsi Alas, tradisional Aceh Bangsi Alas Bangsi Alas atau bensi merupakan alat musik tiup tradisional Aceh yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan bentuk yang mirip dengan seruling. Bensi dibuat dengan dari bambu pilihan agar dapat menghasilkan nada yang bagus. Baca juga Alat Musik Daerah Bengkulu Beberapa buah bamboo akan dihanyutkan secara bersamaanke sungai, bamboo yang paling pertama hanyutlah yang akan dipilih untuk membuat Bengsi Alas.
di daerah aceh terdapat musik yang disebut